Pengenalan Spiritual Quotient Atau Kecerdasan Spiritual

Spiritual quotient sebagai salah satu kecerdasan masunia. Dalam pencapaian kualitas hidup yang lebih baik juga diperlukan pemahamaan mengenai alat ukur kecerdasan manusia diantarnya IQ, EQ, dan SQ. Intelectual quotient adalah kecerdasan intelektual seseorang yang berpengaruh terhadap hidupnya, namun Goleman pernah memaparkan bahwa kecerdasan intelektual belum memadai, karena kecerdasan intelektual hanya berupa alat. Penelitiannya ini mengungkapkan bahwa kecerdasan otak hanya menyumbang kira-kira 20% bagi faktor yang menentukan kesuksesan hidup, dan 80% diisi oleh kekuatan lainnya, diantarnya adalah kecerdasan emosional dan spiritual. Kedua melalui Emotional Qotient (EQ), dengan adanya aspek ini maka individu dapat memotivasi diri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan menjaga beban stress agar tidak melumpuhkan kemampuan berpikir.

Namun, sebenarnya pemaknaan apa itu spiritual quotient masih terdapat perbedaan pandangan di kalangan para pakar, di antaranya: Pertama, Ary Ginanjar Agustian, kecerdasan emosi dan spiritual bersumber dari suara hati. Sedangkan suara-suara hati itu ternyata berasal dan sama persis dengan nama-nama sifat-sifat Ilahiyah yang telah terekam di dalam jiwa setiap manusia, seperti dorongan ingin mulia, dorongan ingin belajar, dorongan ingin bijaksana, dan dorongan-dorongan lainya (Agustian, 2007, p. 200). Kedua, Jalaludin Rakhmat dan Komaruddin Hidayat berpendapat sebaliknya, bahwa kecerdasan spiritual tidaklah sama dengan agama. Orang yang beragama belum tentu memiliki kecerdasan spiritual, karena agama di samping sebagai aturan-aturan formal, juga kadang-kadang berperan terhadap tragedI saling bunuh sesama manusia.

Danah Zohar dan Ian Marshall mengatakan bahwa SQ tidaklah sama dengan agama. Menurutnya, SQ beroperasi dari otak (realitas ilmiah), sementara agama (transendensitas) dari wahyu. Persoalanya apakah benar spiritual seseorang akan tumbuh dan berkembang dengan baik bila tidak didukung oleh agama, artinya tanpa bimbingan wahyu dan Tuhan. Tentulah hal itu, bagi kita sebagai umat muslim tidak mungkin terjadi. Segala sesuatu di dunia ini bergerak atau bertumbuh sesuai kehendak-Nya. 

Apa itu spiritual quotient? Berikut Kecerdasan Spiritual Menurut Para Ahli

Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia.

Kemudian apakah manusia kini bukan insan???

Bukan itu yang saya maksud. Proses memanusiakan manusia ialah aktivitas yg bisa membuahkan insan tadi relevan dengan kebutuhan zaman, sosial masyarakat, juga alam semesta. Memang sahih, wujud dari manusia keseluruhan ialah sama yaitu terdiri berasal organ-organ tubuh. Tetapi, bagaimana proses insan berpikir yang menjadi pembeda antara satu dan yang lainnya. Manifestasi dari aktivitas berpikir adalah tindakan. Tindakanlah yg mendeskripsikan bagaimana isi diri seseorang.

Pemaknaan pendidikan menurut Budiman merupakan sebuah usaha buat menginternalisasikan nama-nama keagungan ilahi. Intensitas pengajaran ilahi kepada Adam menyebabkannya harus dipatuhi serta dimuliakan adalah sebab telah mempunyai tiga macam kecerdasan yakni kecerdasarn intelektual, emosional, serta spiritual. Dengan kecerdasan intelektual, insan membaca, tahu, dan memanfaatkan serta memakmurkan alam semesta. Menggunakan emosional, manusia memiliki sifat empati, kasih sayang serta menghargai. Sengan spiritual quotient, insan mampu patuh, taat dan berusaha menghambakan diri pada Allah.

Dalam buku “Revolusi IQ / EQ dan SQ”, Taufiq Pasiak memaparkan istilah spiritual yaitu kecerdasan yang berhubungan dengan hal-hal transendensi, melampaui hal-hal “waktu”, melampaui pengalaman saat ini dan manusia. SQ bukanlah doktrin agama yang mengundang orang manusia harus dengan bijak memilih atau menerima orang yang dianggap benar oleh Barat. Spiritual Quotient adalah bagaimana mengelola dan menggunakan makna, nilai, dan kualitas kehidupan spiritualnya. Makna kehidupan spiritual termasuk kerinduan akan kehidupan yang bermakna (will to meaning) dan menginspirasi kehidupan manusia selalu mencari makna hidup.

Sebagai bagian dari psikologi, spiritual quotient memandang bahwa seorang yg taat beragama belum tentu memiliki kecerdasan spiritual. Mereka kadang-kadang masih menerapkan sikap fanatisme, ekslusivisme serta intoleransi terhadap pemeluk agama lain, sebagai akibatnya mengakibatkan permusuhan pada antaranya. sebaliknya mampu jadi seseorang humanis non-agamis memiliki spiritual quotient yg tinggi, sebagai akibatnya sikap hidupnya bernuansa inklusif, menghargai pluralitas dan bersikap toleran.

Sebagai potensi, status spiritual quotient diklaim unik atau kontroversial. Beberapa orang beropini bahwa potensi spiritual terletak di hati (qalb). Beberapa orang mengatakan bahwa spiritualitas itu terdapat pada otak. di mata orang Barat, kebijaksanaan spiritual tidak datang dari hati atau anggota tubuh, tetapi berasal otak, yang disebut “God Spot”. Selain kecerdasan, otak insan pula artinya jaringan otak Tangan kiri mempunyai kecerdasan emosional di jaringan otak kanan serta kecerdasan spiritual pada God Spot. Psikolog Barat percaya bahwa kecerdasan mental didasarkan pada otak insan yang berfungsi dengan anggun pada kehidupan insan yang sadar.

Selain God Spot, pakar neurologis serta neurokimia menunjukan bahwa kecerdasan spiritual sesuai otak insan juga asal asal osilasi Hz, tanda somatik dan alam bawah sadar kognitif. di sisi lain, para pemikir Muslim percaya bahwa potensi spiritualitas dari dari hati.

Dari qalb lahirlah spiritual quotient yang mengakibatkan seseorang cenderung mendapatkan kebenaran dan kebaikan. dalam bahasa Al-Qur’an qalb yg mempunyai kecenderungan kepada universalitas dikatakan sebagai basirah (mata hati) menjadi pecahan kata basara dan absara. berdasarkan para pakar tafsir, basirah mampu berarti mata batin atau nalar sehat, yaitu akal yg Bila dipergunakan secara optimum akan membuat kebenaran, karena dia memilih kekuatan yang sekuat pandangan mata batin (‘ainun basirah) pada seseorang yang mempunyai al-‘aql al-salim (logika sehat) (Mubarok, 2001).

Dalam hal ini terdapat perbedaan asal SQ antara psikologi Barat dan Islam. Jika, di mata orang Barat, nasihat spiritual bersumber berasal otak yg diklaim “God spot”, maka Islam diekspresikan berasal hati. Alasan disparitas sudut pandang ini sebab sudut pandang dan fondasi yg tidak selaras. Barat masih percaya bahwa potensi spiritual ada pada otak ketua. pada sisi lain, Islam memisahkan diri berasal tataran tekstual dan menyimpulkan bahwa kualitas spiritual terletak pada pada hati. Meskipun ada disparitas asal kebijaksanaan spiritual, Keduanya mengakui bahwa SQ artinya kecerdasan tertinggi, serta masuk hati nurani yg terdalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.